BLOG.MAKMALF

Words are breathing

Saturday, 3 September 2016

Macbook Pro MF839 - Kesan Pertama


Serasa mimpi, akhirnya bisa terbeli juga laptop ini. Karena dulu, rasanya mustahil untuk bisa membeli barang dengan harga sefantastis ini. (Alhamdulillah). Laptop bagus yang bukan hanya luar, tapi jeroannya juga. Menebusnya dengan harga yang sangat mahal -saya beli diharga 16.5jt (brand new in box, garansi resmi internasional)- otomatis ekspektasi saya juga melambung tinggi.

Digembar gemborkan sebagai laptop yang memiliki sistem operasi OS X yang intuitif dan user friendly. Setelah masa pemakaian aktif selama 2 hari. Simpulan: I don't totally agree

And.. here are the reasons. 

It's Developer Friendly, NOT User Friendly. 


Saya menggunakan komputer Windows untuk mengerjakan web, saya terbiasa dengan terminal dan command line untuk beragam framework yang digunakan di Windows. Seperti NPM, Ruby Gem, dan Git, sampai Composer. Bekerja di windows, saya dimanjakan dengan kemudahan untuk menginstall Composer menggunakan installer (exe file), walaupun memang sudah terbiasa install sesuatu dengan command line, tapi tetap saja, namanya installer, it's executable with just a few clicks is easier than a single line of command. Tapi, bagaimanapun sulitnya karena menemui kegagalan yang berulang-ulang, akhirnya composer terinstall juga. 

Tinggal Laravel. Installing Laravel on this machine feels like pain in the ass. Bagaimana tidak, butuh waktu berjam-jam untuk troubleshoot masalah (karena saya newbie dengan sistem file-nya OS X), ditambah berjam-jam pula untuk saya menyusuri forum dan mencoba beragam keyword berharap ada solusi. Akhirnya, berhasil juga.

...even for just a "plugging an usb flashdrive" activity.


Ini yang paling saya gak faham sama sekali. Kebutuhan akan perangkat apapun yang memakai interface usb secara plug n' play itu adalah mutlak harus dipenuhi oleh sebuah OS -apalagi ini berlabel user friendly. Jadi, kasusnya saya ingin memindahkan file yang ada di flashdisk ke ssd mac saya, namun ufd saya tidak terdetek sama sekali. Berdasarkan informasi hasil googling berjam-jam pula, saya menemukan solusi, dengan menginstall XtraFinder (https://www.macupdate.com/app/mac/42067/xtrafinder). Karena dengan XtraFinder ini saya bisa me-restart Finder setiap kali saya plug in ufd atau hdd eksternal saya agar bisa terbaca dan muncul di Finder-nya. What the......

***

Sekilas tentang Macbook Pro saya:
  • MF839 (Early 2015)
  • 128GB SSD
  • Retina Display - 2560x1600 native resolution
  • 13.3" monitor
  • i5 2.7GHz processor
  • 8GB DDR3 1866 MHz

Tuesday, 19 April 2016

Bermimpi dalam Kenyataan

PART I


Mimpi itu bunga tidur. Tapi yang namanya bunga tidak selamanya berkorelasi dengan keindahan, karena ada beberapa jenis bunga yang digunakan untuk mewakili kesedihan seseorang. Dan kesedihan, tentu saja bukan suatu bentuk korelasi dengan keindahan.

Beberapa orang memilih untuk memilih beberapa mimpinya untuk disimpan dalam kehidupannya. Tentu saja itu mimpi-mimpi indahnya. BUKAN mimpi-mimpi buruknya.

Masalahnya, adalah hal yang mustahil ketika seseorang bisa menemui mimpi indahnya dalam kehidupan nyatanya. Konsep keindahan yang ditawarkan oleh dunia mimpi adalah sangat ideal. Dan kehidupan tidak akan pernah seideal itu.

Selalu saja optimisme seseorang untuk bisa menggapai mimpi-mimpi indahnya ternyata didikte oleh realitas dan keberuntungannya.

Yap, seseorang pernah bilang ke saya bahwa:
Hasil tidak akan pernah menghianati usaha keras.
Terdengar sangat indah dan membuai, sehingga seperti candu yang melenakan kita untuk terus tetap berusaha keras, meskipun lagi-lagi si nasib sial ternyata sudah menunggu kita di depan.

Seperti ketika anak-anak kecil dicekoki cerita-cerita indah pengantar tidur oleh orang tuanya, tetapi beberapa jam kemudian tiba-tiba mereka terbangun terkagetkan oleh mimpi buruknya.

PART II


Karena sebagian orang ternyata bernasib sial. Semua harapannya telah didikte terlebih dahulu oleh kesialannya. Maka akan datang suatu saat ketika:
Usaha keras ternyata dikhianati oleh si nasib sial. 
Dan itu terjadi terus menerus. Tetapi kita jangan menyerah. Karena seperti orang-orang yang beruntung bilang bahwa:
Kita harus tetap bersyukur karena masih banyak orang-orang yang lebih bernasib sial daripada kita.
Masalahnya. Si penanggung nasib sial itu ternyata sudah terlanjur lama menaruh mimpi-mimpi indahnya dalam kehidupan. Sehingga lupa bahwa masih banyak orang-orang yang lebih bernasib sial, saking sialnya, mereka hanya bisa menemui keindahan-keindahan dalam mimpinya saja, kemudian terbangun dan sadar bahwa semalam dan malam-malam sebelumnya dia tidak tidur diatas ranjang empuk seperti dalam mimpinya.

Saturday, 2 April 2016

Pendidikan untuk Investasi

Ketika saya iseng membuka-buka kembali beberapa tumpuk majalah PC-Media yang sempat saya langgan beberapa tahun sejak 2009 sampai akhir 2011, saya terhenti pada sebuah rubrik yang kala itu menjadi salah satu inspirasi saya untuk memilih dan menimba ilmu di jurusan Pendidikan Teknik Elektro UPI.

Sebuah tulisan yang berjudul: "Pendidikan TI bukan Investasi!" Bernaridho Hutabarat adalah penulisnya. Tulisan ini bisa ditemukan di PC-Media terbitan Februari 2010 pada rubrik Viewpoint. Saya sangat suka ketika Bernaridho sendiri adalah seorang penggiat TI, tetapi malah merekomendasikan seseorang untuk masuk Elektro saja. Karena? Lulusan TI telah banyak bersaing dengan alumnus non TI. Karena TI secara praktis, bisa dipelajari secara otodidak. Hal itu yang mengurangi nilai invest-nya.

Dan sekarang 2016. Sudah lumayan usang juga, ketika seorang calon mahasiswa yang kala itu masih belum tahu apa-apa tentang dunia perkuliahan dan dunia sesudah wisudanya. Masih cupu dan nggak tahu bagaimana kerasnya dosen-dosen teknik. Tapi mampu memantapkan hati untuk tetap masuk Pendidikan Teknik Elektro UPI.

Berbekal basic elektro yang tidak ada sama sekali, kebingungan pun melanda pada awal-awal perkuliahan sampai semester 5. Tapi bagusnya, saya memiliki minat yang lebih pada dunia TI, khususnya web development, dan saya mampu belajar secara otodidak. Akhirnya, mulai tahun 2012 saya memantapkan diri saya untuk berfreelance dalam bidang Wordpress Theme Development. Sampai sekarang. Freelancing saya sudah mencapai belahan globe lainnya. Beberapa project bule dari Prancis, Kanada, Amerika, Inggris sampai Zimbabwe, sudah saya kerjakan. Alhamdulillah. Mereka tidak tahu bahwa saya hanyalah seorang yang tidak mempunyai background sama sekali di bidang Teknik Informatika. :)

Akhirnya, tepat Desember 2015 kemarin saya berhasil wisuda. Meskipun lumayan telat, karena sudah banyak teman-teman seangkatan yang sudah wisuda dari 2014. Tapi tidak apa, karena ketika Februari 2016 datang, langsung menyambut saya untuk memasuki dunia pekerjaan menjadi seorang guru honorer di SMKN 1 Talaga jurusan Otomotif. 

Ya, saya nggak typo, Bukan TKJ, RPL, ataupun Elektro, tetapi OTOMOTIF. Di otomotif saya mengajar kelistrikan dan gambar teknik yang tentu saja materi dari kedua mata pelajaran itu adalah salah sebagian yang dipelajari di waktu saya kuliah dulu.

Pendidikan Teknik Elektro. It is the real investment, isn't it? :)

Sunday, 18 October 2015

Karma. Thanks To



We've done something in the past, something might be bad to someone in the past. As the time flies, then now we're all here at the time with kinda thing called Karma in between.

We feel something like the one from the past felt. Once, we ever felt that Karma doesn't make any senses, then now we truly are feeling that Karma does exist, doesn't matter what kind of sense can receive its existence.

Are we all here being cursed? Or just, we're regretting for didn't make any chances to apology?

I'm sorry for "Sorry" that I've never said. It curses me so bad.

Tuesday, 21 July 2015

Tentang Single Baru Flukeminimix: "Chariot and the Warriors of Silence"



Bagi yang belum tau band asal Kota Bandung ini, silakan cari tahu dulu karena namanya sudah tidak asing di Google. :)

Dan bagi kalian yang suka musik Radiohead, Mogwai, dan beberapa lagu tanpa lirik berdurasi panjang ala ala Pink Floyd atau Sigur Ros mungkin akan tertarik juga dengan apa yang ditawarkan oleh band ini. Terlepas dari benar atau tidaknya mereka terinspirasi oleh band-band di atas, satu hal yang saya sukai ketika musik mereka terdengar melalui headphone saya adalah: nuansa.

Musik yang bagus memberikan nuansa tertentu kepada pendengarnya, Chariot and The Warriors of Silence ini juga. Bukan tipikal musik yang begitu mudah masuk ke telinga semua orang memang. Ini tipikal lagu yang semacam: if you like it you must be like it so much, but if you dont, you must be hate it so much. Take it or leave it.

Untuk bisa menikmatinya memang bukan perkara mudah, perlu perangkat audio yang lumayan bagus (dan itu tidak murah), setelah itu, maka semua sound yang coba dihadirkan akan sangat terasa impact yang ingin disampaikannya, semacam nuansa, mood, dan warna-warni tertentu yang jika mata kita terpejam akan terekam terbayang, seperti tidak ada bedanya dengan video klip yang berjalan seiring dengan durasi musik belasan menit, semua terjadi di alam pikiran kita.

Semacam abstraksi visual. Canvasnya adalah alam pikiran kita yang  terbius dengan instrumen-instrumen musik beralun secara up and down.

Chariot and The Warriors of Silence ini terdengar menyeramkan, bergemuruh tetapi terasa sunyi, dan mencekam, seperti artwork-nya yang sunyi tapi dibawah tanahnya, entah, bisa jadi sangat bergemuruh.