BLOG.MAKMALF

Words are breathing

Monday, 3 October 2011

Super Transparan!

Zaman dulu bahkan dahulu kala, orang tidak pernah bisa membayangkan bagaimana caranya bisa terbang dan berpindah dari satu benua ke benua lainnya dengan relatif cepat. Zaman dahulu kala, orang akan menganggap mustahil bahwa manusia bisa tetap berkomunikasi secara jelas walaupun jarak terpisah benua sekalipun. Dahulu kala, siapa yang akan menyangka juga bahwa akan ada satu benda yang tidak pernah bisa lepas dari kehidupan sehari-hari manusia zaman sekarang. Manusia-manusia zaman sekarang menyebut benda itu adalah handphone.

Dilatarbelakangi oleh takdir manusia sebagai makhluk sosial yang selalu butuh untuk berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya, perkembangan handphone ini pun semakin pesat. Tujuan orang-orang berkomunikasi kini bukan hanya untuk sekedar berkomunikasi semata, tetapi juga untuk saling bertukar informasi, bisnis, dan hiburan, sehingga terciptalah smartphone. 
are-we-smarter-than-our-smartphone
Sebelum lebih jauh lagi, saya akan menjelaskan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dengan smartphone di sini adalah handphone yang memiliki fungsi lebih dari sekedar mengirim sms dan telpon, tetapi, paling tidak ada fitur pemutar mp3 atau browser internet saja misalnya di handphone itu, maka saya menganggap handphone itu sudah bisa masuk ke dalam kategori smartphone.

But stop, tunggu dulu. Sesuai judul post, yang akan saya bahas disini bukanlah teknologi smartphone yang semakin smart dari waktu ke waktu itu. Tetapi yang lebih saya tekankan disini adalah efek dari smartphone terhadap gaya berkomunikasi orang-orang zaman sekarang ini.


Ok, kita sadar (atau bahkan sebagian orang tidak sadar) bahwa cara kita untuk berkomunikasi pun kini telah berbeda. Dengan banyak bermunculannya  situs-situs social media, seperti Facebook, microblogging Twitter, dan sejenisnya ditambah dengan akses yang sangat mudah karena didukung oleh smartphone pula, ternyata telah membuat orang-orang lebih terbuka dengan dunia luar, lebih terbuka dengan orang lain bahkan dengan orang-orang yang tidak dikenalnya sekalipun. Cara pandang kita terhadap apa yang disebut “berkomunikasi” pun kini telah  berganti. Secara praktik, kini kita lebih mengartikan “berkomunikasi” sebagai “berbagi”. Dengan berkomunikasi a la sekarang ini, kita lebih bebas untuk menyampaikan ide kita dan pendapat kita tentang satu hal dan membagikannya ke semua orang. Hanya dalam sekali klik dan status pun ter-update, semua orang yang mejadi friends dan followers akun kita akan secara mudah untuk membacanya dan bahkan memberikan komentar. Hebat? Tidak juga, karena itu hal biasa dizaman ini, semua orang bisa seperti itu, bahkan anak SD pun bisa.

Tentu saja ini merupakan suatu kebaikan bagi kita dan orang lain apabila kita bisa memilah dan memilih mana yang memang cocok dan mana yang memang tidak cocok untuk kita share ke ruang publik. Tapi tragisnya, sebagian bahkan mungkin juga kebanyakan orang tidak lagi memikirkan hal itu. Baik atau tidak baik, cocok atau tidak cocok, tetap saja mereka jadikan sebagai status akun social media mereka. Ya, dengan kata lain, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang didukung oleh media-media sosial yang banyak seperti sekarang ini, membuat karakter seseorang ketika berada di dunia maya menjadi lebih terbuka dan bahkan sangat terbuka. Saya sendiri sering melihat beberapa orang di dunia maya dengan sikap dan perilakunya yang seperti saya maksud itu. Sumpah serapah, rasa sebal terhadap seseorang atau sesuatu, mereka luapkan lewat status-status mereka dengan kalimat-kalimat yang memang tidak pantas untuk dikeluarkan ke ruang publik. Tentu saja hal itu adalah sebuah kekeliruan yang sangat besar, karena ini berhubungan dengan nama baik dan pandangan orang lain terhadap mereka yang memposting status update seperti itu. Jadi seharusnya, kita tahu mana yang pantas untuk di tulis di facebook dan mana yang pantas untuk hanya ditulis di buku diary yang tersimpan rapi di laci lemari kamar kita yang terkunci rapat sehingga tidak akan ada seorang pun selain kita sendiri yang bisa membacanya.

Menghadapi realita seperti ini, saya berandai-andai suatu saat nanti ada sebuah filter super super kuat yang bisa memfilter status-status facebook atau twitter yang sama sekali tidak pantas untuk dibaca ramai-ramai seperti itu. Karena rasanya sudah muak sekali mata saya untuk melihat dan dengan terpaksa membaca status-status tak layak seperti itu di halaman home teratas facebook dan timeline twitter saya. *Ok, mungkin paragraf ini hanya curhatan saya belaka, mohon untuk anda abaikan.

Dengan teknologi informasi komunikasi yang ada sekarang ini, seharusnya kita bisa menggunakan teknologi ini secara bijak, dalam artian hanya untuk-untuk hal-hal yang bisa mendatangkan kebaikan bagi kita dan orang lain. Di dunia nyata dan di dunia maya pun kita masih memiliki aturan dan kita terikat dengan aturan itu. Seharusnya kita tahu bahwa di dunia manapun selalu ada etika tentang hal yang memang baik untuk dilakukan dan banyak juga hal yang memang jelek untuk dilakukan. Saya tidak perlu menjelaskan semuanya di sini karena saya yakin anda semua pasti tahu dan benar-benar memahami tentang semua hal itu.

Terakhir, saya menyimpulkan bahwa karakter kita dalam berinteraksi dengan orang lain seakan-seakan menjadi lebih terbuka dengan adanya situs-situs penyedia layanan sosial seperti itu. Dan kini, berkat smartphone yang semakin smart dengan dukungan banyaknya situs-situs jejaring sosial, paradigma berkomunikasi kita pun ternyata sudah benar-benar berubah. Cara kita berkomunikasi pun telah berubah menjadi lebih transparan dan bahkan SUPER TRANSPARAN!

Semoga kita bisa menyikapi kemajuan teknologi informasi dan komunikasi ini sebijak mungkin.
Be smarter than our smartphone? | Yea, it’s a must!Smile

P.S. Maafkan saya apabila ada kata yang tidak berkenan di hati anda.


Artikel ini saya ikutsertakan pada ajang Computing Cup 2011 dengan hadiah jutaan rupih. Info lebih lanjut, silakan klik http://computingcup.ittelkom.ac.id
logocc