BLOG.MAKMALF

Words are breathing

Thursday, 3 November 2011

Resensi Film: “Real Steel”

Tahun 2020 kelak masyarakat dunia telah bosan dengan tontonan pertandingan tinju yang melibatkan manusia vs manusia. Bersama itu, kecanggihan teknologi sangat berkembang pesat, hingga terwujudlah ide untuk menciptakan suatu tontonan pertandingan tinju yang jauh lebih menghibur lagi, lebih sadis, lebih kejam, dan sampai mati! Pertandingan tinju itu tidak lagi melibatkan manusia vs manusia, tetapi Robot vs Robot!
Charlie Kenton (Hugh Jackman) adalah mantan petinju professional yang kini beralih profesi menjadi promotor tinju robot. Keambisiusannya menjadi promotor robot tinju dari sasana ke sasana ini membuat dirinya melupakan anak kandungnya sendiri, Max (Dakota Goyo). Max telah lama berpisah dari kehidupan Charlie, kemudian suatu peristiwa terjadi yang mengakibatkan Max hadir kembali ke tengah-tengah kehidupan Chalie. Meskipun Max adalah anak kandungnya sendiri, tetapi Charlie malah ogah-ogahan, sampai-sampai dia lebih rela menjual hak kepengasuhan anaknya hanya demi untuk membeli sebuah robot tinju!

Karena suatu hal, untuk sementara waktu, Max harus diasuh terlebih dahulu oleh Charlie dan pada hari-hari bersama ayahnya itu, Max menemukan kesamaan ambisi dengan ayahnya atau mungkin juga si Max ketularan ambisi ayahnya yaitu memiliki robot hebat yang tidak terkalahkan.
_________________________________
Sebelumnya saya tidak pernah tau bahwa ada nama Steven Spielberg di jajaran executive producers film ini, tapi acuhkan saja lah nama besar yang telah mengecewakan saya dengan “Super 8”-nya itu. :p

Film yang dibintangi oleh Hugh Jackman ini benar-benar diluar dugaan saya. Ketika melihat posternya, saya berpikir bahwa film ini hanyalah sebuah film yang mengumbar-ngumbar kecanggihan CGI belaka a la “Transformers” di sekuel ketiganya kemarin, sebuah film yang kosong dengan makna dan mudah dilupakan bahkan sedetik setelah keluar ruang teater.  Tapi kenyataannya, film yang memang syarat dengan aksi laga dan adu jotos antar robot canggih dan menawan ini menyimpan sebuah cerita romantis dan sentimentil dibaliknya. Ada cerita cinta Si Charlie dengan partner cantiknya dan tentunya yang paling sentimentil, ada cerita romantis antara seorang ayah dan anak kandungnya. Charlie dan Max.

Hugh Jackman yang berperan sebagai seorang ayah yang pada awalnya sama sekali acuh terhadap anak kandungnya sendiri, Ok, mungkin diperjelas lagi, benar-benar acuh dan sangat acuh. Peran ini berhasil dijalankan dengan baik, ya kita tahu lah bagaimana kualitas akting si Om yang sebelumnya pernah bermain peran sebagai mutant secara apik di franchise “X-Men” sampai menjadi seorang pesulap “sakit” di film arahan sutradara besar Christopher Nolan, “The Prestige.”

Akting si junior Dakota Goyo pun patut diajungi jempol, walaupun junior tapi kelihatannya dia sudah lihai sekali mengolah mimik wajah sesuai emosi yang ada dalam script miliknya. Ini diperlihatkan dan dibuktikan dengan banyaknya scene-scene yang secara close up mengarah ke wajahnya.
Keduanya berhasill membawa emosi penonton hanyut dan naik turun.

Membicarakan robot-robotannya, kelihatannya teknologi CGI yang diterapkan memang tidak semewah dan semegah “Transformers: Dark of The Moon,” tapi walaupun begitu, adegan adu jotos antar robot, muncrat-muncratan oli di sasana tinju robot terlihat sangat meyakinkan dan nyata. Sangat memanjakan mata, didukung juga dengan pengambilan-pengambilan gambar yang bagus serta fantastis, contohnya saat si Hugh Jackman yang menngendalikan robot dengan sensor peniru gerak melakukan jotosan sambil melompat. Saya tidak tau istilahnya apa, tapi ya itu keren sekali. Open-mouthed smile Dan kalau boleh jujur juga, mending nonton pertandingan tinju robot di film ini daripada nonton pertandingan tinju Mick Tyson vs Chris John sekalipun. Open-mouthed smile
Sutradara Shawn Levy (“Date Night” dan “Night at The Museum”) nampaknya tahu benar bagaimana untuk membuat sebuah robot tinju rongsokan yang seakan-akan memiliki hati dan perasaan. Dua cahaya biru yang membentuk mata dikepalanya seakan-akan menunjukkan perasaan robot itu. Ada rasa iba ketika melihat si Atom yang dihujani jotos oleh super robot, Zeus. Tapi film ini bukan film yang terlalu jauh berhayal seperti film fantasi. Atom tetaplah Atom, sebuah robot yang yang memiliki sensor peniru gerak dan pada awalnya berfungsi sebagai robot partner latihan, tetapi kemudian dimodifikasi oleh si jenius Max sehingga bisa bergerak dengan kontrol suara.

Keahlian Levy dalam menyisipkan adegan-adegan konyol di film ini juga patut diberi pujian dan tawaan tentunya, contohnya ketika si Max yang memanfaatkan sensor peniru gerak kemudian melatih Atom untuk ngedance, benar-benar konyol dan mengundang tawa sebagian besar penonton. Dan gaya dance-nya ngingetin saya ke gaya dance-nya a la Justin Bieber. Open-mouthed smile. O ya, dari segi dialog-dialog juga tidak sedikit yang mampu mengundang tawa, atau paling tidak tersenyum simpul. Tapi wajar memang, mengetahui Levy yang sebelumnya telah cukup banyak berpengalaman dalam mengolah film-film bergenre komedi.
I think the movie is Wow! Superb! Mengharukan! Gara-gara film ini, saya akhirnya bisa mengalami pengalaman baru ketika menonton sebuah film di bioskop. Kepiawaian akting Hugh Jackman dan Dakota Goyo serta tidak lupa kecanggihan CGI dalam menciptakan sebuah laga antar robot ini benar-benar mampu untuk membawa hanyut emosi penonton. Seru, deg-degan, tegang, bahkan ada yg sampai menangis terharu. Tidak sedikit penonton yang secara refleks tepuk tangan ketika melihat si Atom (nama robot si Max dan Charlie) meng-KO kan lawannya. Berkat bumbu cerita romantis antara anak dan ayahnya yang sangat mengharukan juga, saking mengharukannya sampai-sampai penonton perempuan sebelah saya terisak-isak. Open-mouthed smile Emosi penonton benar-benar dibuat naik turun.

Dukungan soundtrack yang manis dan scoring garapan Danny Elfman  (composer untuk score dan theme “Spiderman 3”) yang menggelegar a la film-film action semakin melengkapi suasana emosi dan semakin membuat penonton mampu untuk menikmati film ini.
Ok, mungkin review ini terlalu berlebihan, tapi ya memang begini adanya, bahkan kalau boleh jujur, sampai sekarang mengetik ini pun saya masih teringat-ingat dan terbayang-bayang dengan film ini.

“Courage is stronger than steel.”
“Something is better than nothing.”

Meskipun dengan segala kekurangan yang ada, tapi keberanian yang kita miliki bisa menjadi senjata terkuat untuk mengalahkan apapun.

“Real Steel” sebuah film unjuk kecanggihan efek visual yang sangat menghibur dengan balutan kisah romantis hubungan ayah-anak yang begitu berkesan. Juga sebuah film yang bercerita tentang perjuangan, keberanian, dan manisnya cinta sesungguhnya.
Smile

Film ini WAJIB DITONTON. Acuhkan saja Rottentomatoes yang memberinya lemparan tomat busuk kepada film ini..

___________________________________
P. S. maafkan saya belum bisa aktif lagi blogwalking dan mengomentari postingan-postingan teman-teman blogger, koneksi internet yang payah, terlalu lemot, membuat saya yang tadinya malas jadi tambah malas. Maka dari itu fahamilah blogger yang masih labil ini. Open-mouthed smile