BLOG.MAKMALF

Words are breathing

Sunday, 27 November 2011

Resensi Film: "The Shining" [1980]

Jack Torrance (Jack Nicholson) mempunyai pekerjaan baru menjadi seorang penjaga/cartaker sebuah hotel besar dan mewah yang sangat terpencil dan sangat terisolasi dari keramaian. Hotel bernama "Overlook Hotel" itu berada di pegunungan Rocky Mountain, Colorado. Kebetulan, Jack juga sedang mempunyai proyek penulisan sebuah novel, atas alasan itu, Jack sangat bersemangat menerima pekerjaan itu, karena menurutnya dengan kesunyian dan ketenangan hotel itu akan menjadi tempat yang pas baginya untuk menyelesaikan novel itu dengan mudah. 
Betapa menakutkannya kejadian 5 tahun yang lalu di hotel tersebut tidak mengurungkan niat Jack untuk tetap bekerja di hotel tersebut dan membawa serta istri dan seorang anak "indigo"nya bernama Danny untuk tinggal beberapa bulan di hotel tersebut. 

1 Satu bulan kemudian, kejadian-kejadian aneh terjadi. Danny yang mempunyai kemampuan melihat hal yang akan terjadi di masa datang terus menerus diganggu bayangan-bayangan menakutkan. Jack pun secara perlahan dan pasti, kondisi psikologinya mulai terganggu, ya, rupa-rupanya kejadian menakutkan 5 tahun yang lalu pun akan kembali terulang. 
_______________________________________
Entah berapa puluh film-film bergenre horror yang sudah saya tonton sampai sekarang sampai akhirnya saya bisa menyimpulkan bahwa ada tiga cara yang biasa dilakukan sebuah film horror untuk menciptakan ke-horror-annya sendiri. Yang pertama, tentu saja dengan cara memperbanyak penampakan-penampakan hantu dengan kostum dan make up tebal yang menakutkan, ini terasa biasa saja. Yang kedua, lebih bertumpu pada penciptaan suasana horror yang sangat mencekam, biasanya film horror seperti ini banyak bertumpu pada penggunaan tone yang dibuat semuram mungkin, setting yang mencekam, dan scoring berkesan horror yang sangat mencekam, serta ekspresi "spooky" para aktor. Jadi meskipun tanpa penampakan hantu, penonton bisa dibuat ketakutan dengan menciptakan suasana mencekam seperti yang saya maksud itu dalam setiap scenenya. Biasanya, film dengan genre psychological horror-lah yang masuk kategori ini seperti "Silence of The Lambs". Paranormal Activity, The Blair Witch Project (meskipun ini berjenis horror mokumenter), boleh lah masuk kategori ini. Yang ketiga, film horror yang menciptakan ke-horror-annya dengan memadukan kedua unsur itu. Menurut saya, "The Shining" lah salah satu yang terbaik dalam kategori terakhir ini. 

"The Shining" mampu menciptakan ke-horror-annya dengan cara memperkuat suasana angker dalam setiap scenenya, juga dengan dukungan penampakan hantu walaupun dengan porsi sedikit tetapi tetap mampu menciptakan suasana horror yang sangat mencekam. Tidak hanya itu, pemilihan setting hotel yang sangat besar dan megah berdiri ditengah-tengah kesunyian sebuah pegunungan membuat elemen keangkerannya bertambah. Scoring ala film horror classic-nya juga. Ekspresi spooky dari Si Danny dan Si Jack. Ya semua elemen pencipta keangkeran sebuah film horror itu mampu saling berkait erat satu sama lain dan menjadikan "The Shining" sebagai sebuah film horror yang horror sekali.

Mungkin buat tipe penonton yang lebih menyukai film horror yang tanpa banyak basa basi berjalan dengan tempo cepat (seperti Insidious) akan kesusahan dalam menikmati sensasi horror dari film ini yang berjalan dengan tempo yang lambat di awal. Tapi justru ini menjadi nilai plus dari "The Shining". "The Shining" mampu merangkak dengan baik dari awal, perlahan namun pasti menciptakan ketegangan dan horror yang semakin meningkat dan akhirnya mencapai kllimaks yang syarat dengan ketegangan. 

Tidak lupa, twist ending yang ada di film ini, serta kemunculan beberapa karakter yang saya sangka di awalnya hanyalah imajinasi si Jack saja, dua hal itu kemudian menjadi pertanyaan yang meninggalkan celah interpretasi sehingga patut didiskusikan dan ditonton ulang filmnya. Sebuah strategi jitu, contohnya ketika Nolan yang juga dengan sengaja menciptakan hal-hal seperti ini dalam "Inception"-nya, sehingga banyak penonton yang kemudian menonton ulang film tersebut hanya untuk mencari bukti dari interpretasi masing-masing dan tentunya itu juga hanya sekedar untuk mendapatkan interpretasi yang sama dengan rekan nontonnya, ya termasuk saya ini. :) Atau bisa juga, sutradara dan orang-orang yang bekerja dibalik film itu dengan sengaja mengetes sejauh mana kemampuan intelektual dan kecermatan ber-analisis kita sebagai para penontonnya. :)

Yah, apapun itu, kembali ke topik utama, "The Shining" yang diangkat dari novel karya Stephen King dan disutradarai oleh Stanley Kurbick ini menjadi sebuah film psychological horror yang sangat menegangkan dan meinggalkan celah interpretasi di otak para penontonnya. Tapi tenang, walau begitu "The Shining" bukanlah tipe film berat, "The Shining" hanya sedikit berjalan lambat untuk mencapai klimaks ketegangan yang kuat. Butuh waktu yang tenang dan mood yang pas untuk menonton film berdurasi sekitar 2 jam 20 menit.

Recommended untuk ditonton sendirian pas tengah malam. :D

10 comments:

  1. Lama gak main kesini, yang punya blog fotonya dah gondrong... hahahaha

    tapi hebat loh, postingannya masih konsisten. pilem pile pilem, uhuy...

    ReplyDelete
  2. @Syam: haha.. untung aja belum sampe brewokan ya. :D

    ReplyDelete
  3. maaf baca paragraf awal langsung loncat ke terakhir :( gg kuaaaat deh
    eh mokumenter tuh apaan sih ?

    ReplyDelete
  4. pantasan bagus...siapa dulu yg py ide cerita...Stephen King...:Dking of horror :D

    ReplyDelete
  5. @Tiara: Gak kuat maksudnya? postnya kepanjangan ya? :D Mokumenter itu subgenre dari horror tapi dengan kemasan kaya film dokumenter. :)

    @Skydrugz: ia, dia emang jagonya bkin cerita horror, tapi ada juga loh yang drama dan diangkat ke film pula, judulnya "Stand By Me" dan itu bagus banget. :)

    ReplyDelete
  6. salah satu horror favorit saya, hampir semua adegannya membekas, pintu dikapak, banjir darah, trus bunyi anak kecil sepedaan yang trrrrttt..zzzz...trrrrrtt..zzzz... aaah.. ini film sangat keren!!

    ReplyDelete
  7. sudah nonton insidius, yang buat seram karena hantunya suka muncul ngagetin,haha. eh tapi muka nenek2 paranormal itu nggak kalah seuremnya =="
    (nah kan,sya OOT!) *kabur*

    ReplyDelete
  8. ah, bingung sendiri nonton the shining gak ada ngeri2 nya...

    ReplyDelete
  9. jd pgen nnton...

    ReplyDelete
  10. the shining emang cocoknya sendiri pas malem2, kalau siang2 gak terasa seremnya

    ReplyDelete