BLOG.MAKMALF

Words are breathing

Wednesday, 16 May 2012

Resensi Film: You are The Apple of My Eye [2011]

Sahabat merupakan tempat semua cerita duka dan suka terjadi. Semua itu menjadi kenangan yang tidak akan pernah bisa terlupakan sampai kapanpun. Termasuk zaman SMA. Banyak yang bilang bahwa masa SMA merupakan masa yang paling indah dalam sepanjang umur hidup manusia. Klise memang, tapi paling tidak, ungkapan itu bukan omong kosong belaka karena cukup terbukti. Terutama bagi 5 sahabat yang sedang mengalami masa-masa SMA ini, kadang penuh kenakalan, penuh gejolak, penuh kemalasan, dan tentu saja penuh cinta. Kelima sahabat itu sama-sama menaksir siswi teman sekelas mereka yang cantik dan pintar. 
Banyak cerita tentang kebersamaan yang mereka lalui bersama hingga sampai mereka berpisah setelah lulus SMA dan mengejar karir masing-masing. 

_________________________________________________
Tidak ada yang baru memang, sama seperti romcom remaja kebanyakan. Tidak ada premis yang bisa dibilang fresh, tidak ada plot yang unik, pokoknya biasa saja kalau kita melihatnya dari segi teknis semacam itu. Jadi acuhkan saja keklisean itu, karena banyak hal yang spesial ada di film ini. Dengan latar belakang kultur anak SMA Taiwan yang tidak jauh berbeda dengan anak SMA Indonesia kebanyakan, kita seakan-akan menonton  diri kita sendiri ketika zaman SMA dulu, zaman-zaman yang masih penuh gejolak, sehingga tidak jarang memberontak dan melawan guru, dihukum oleh guru dan tentunya naksir teman sekelas. :D

Semua hal seputar apa yang biasanya dilakukan oleh seorang anak SMA dan teman-temannya kebanyakan baik itu di kelas (exclude, onani di kelas) dan di luar sekolah pun semuanya lengkap diceritakan di sini. Diramu menjadi sebuah drama coming-of-age yang menceritakan perjalanan hidup mereka sampai meniti karirnya masing-masing. 

Banyak adegan-adegan dan dialog serta monolog yang absolutely touching your deepest heart, karena begitu manis sekaligus menyedihkan juga. [SPOILER!] Oh ya, belum lagi eksekusi endingnya yang manis tapi sekaligus menyedihkan itu. Tapi walau bagaimanapun, endingnya memang harus seperti itu, ending yang adil dan tidak dipaksakan sama sekali. :) [SPOILER ENDS]
Ya beginilah memang, kalau kita sudah terlalu menyukai film yang kita tonton, bahkan menganggap bahwa film yang kita tonton barusan itu ternyata sangat personal bagi kita, maka dengan mudahnya kita akan mengacuhkan segi teknis bagaimana sebuah film bagus itu seharusnya dibuat. Dan setelah kita dibuat terbawa hanyut oleh aliran cerita di film yang kita tonton itu, maka kita akan sangat kesusahan untuk mencari-cari kekurangan dari film itu, baik dari segi akting para pemainnya dan tektek bengek lainnya seputar hal teknis macam itu. 

Cukup simple memang, apabila tidak terlalu pintar membuat segala macam hal teknis yang seharusnya ada dalam film yang bisa dikatakan bagus oleh semua kritikus film yang kadang sok tahu itu, maka cukup lah buat sebuah film yang personal bagi setiap penontonnya. Actually, it's working. Just like this film, "You are the apple of my eye."