BLOG.MAKMALF

Words are breathing

Friday, 20 September 2013

"The Last Samurai" - Budaya dan Idealisme yang Kian Terkikis

90% saya yakin bahwa pembaca sudah pernah menyaksikan film yang dibintangi oleh Tom Cruise dan Ken Watanabe ini. Tapi bagi yang belum nonton juga tidak ada salahnya untuk meneruskan membaca post ini sampai beres, meskipun nanti akan ditemui beberapa spoiler yang bisa jadi akan sedikit merusak kenikmatan menonton anda yang berencana ingin menonton film ini.

Ada begitu banyak pesan tersirat yang sepertinya ingin disampaikan oleh pembuat cerita dari film The Last Samurai ini. Filosofi dari Samurai yang tersurat pada budaya, idealisme, perfeksionisme, dan semangat perjuangan yang diturunkan dari nenek moyang mereka merupakan poin utama yang bisa diambil ketika kita usai menonton film ini. 

Samurai dan Idealisme Tak Tertandingi

Sepanjang film, dua hal ini sangat berjalan berdampingan sehingga sulit untuk dipisahkan. Para Samurai memiliki idealisme yang terkait erat dengan budaya nenek moyang yang telah mereka tanamkan secara turun temurun, terikat kuat dibalik jubah perang dan dalam setiap sabetan pedang mereka.

Ide idealisme ini membentuk sebuah kebudayaan yang tergambar dari sikap mereka menjalani kehidupan sehari-hari, mulai dari berkeluarga sampai bertata-negara (politik.). Setiap laki-laki terlahir untuk menjadi Samurai dan hidup berjuang demi kelestarian budaya nenek moyang mereka. Para Samurai menjalani kehidupan sehari-hari dengan penuh kedisiplinan, berlatih tanpa lelah dan tanpa tahu diri sudah sehebat apa mereka memainkan pedangnya.  Gara-gara idealismenya, mereka rela jika harus bunuh diri lantaran tidak kuat menahan rasa malu akibat kalah bertempur di medan perang.

Politik juga tidak bisa dilepaskan begitu saja dari kehidupan mereka. Cara mereka berpolitik lagi-lagi berdasarkan dari idealisme mereka terhadap budaya nenek moyang yang (sekali lagi) telah tertanam kuat dalam setiap sendi kehidupan mereka. Jadi ketika ada sebagian atau bahkan sebagian besar dari mereka yang berkhianat mereka tidak akan segan untuk memberontak dan melawan. Tidak kenal apapun yang mereka hadapi. Meskipun meriam canggih buatan Jerman, machine gun, dan ratusan ribu tentara, mereka akan tetap hadapi dengan sebilah pedang mereka yang penuh dengan tekad dan keberanian.

Samurai, Keyakinan yang Kuat akan Adat, dan Budaya Leluhur

Suatu ketika seorang istri yang memiliki suami sebagai seorang samurai harus merelakan kematian suaminya itu di medan perang. Dia yakin bahwa suaminya itu meninggal dengan penuh kemuliaan, dia juga berkata bahwa memang seperti itulah jalan hidup seorang Samurai. 

Keyakinan dia bahkan mencapai titik yang tidak bisa dikalahkan oleh istri manapun ketika rumahnya menjadi tempat tinggal seorang tawanan perang yang tidak lain merupakan orang yang membunuh suaminya itu di medan perang. Dia tidak balas dendam, malah dia merawat "tamunya" itu dengan penuh kesabaran dan kesadaran tanpa rasa benci sedikitpun.

Di sisi ini kita bisa melihat bahwa awal dari terciptanya kebaikan adalah menerima semua hal yang menjadi cobaan dalam kehidupan kita, memperbaikinya dengan sabar, dan meyakininya bahwa suatu saat nanti akan berbalik menjadi kebaikan yang berarti besar bagi kehidupan kita. 

Keyakinan yang kuat ini juga mengantarkan para Samurai untuk terus berjuang dan melawan segala bentuk pengkhianatan, tanpa rasa takut atau gentar sedikitpun. Seorang Samurai sejati tidak akan pernah menolak untuk bertempur di medang perang meskipun harus meninggalkan keluarga dan menghadapi resiko kematian. 

Kenali Lawanmu dan Lawanmu Akan Mengenalimu

Para Samurai menjalankan setiap taktik dan strategi perangnya dengan penuh perhitungan. Mereka membawa tawanan perang bukan untuk disiksa dan dicecar ribuan pertanyaan mengenai apa yang mejadi kelemahan mereka (lawan dari para Samurai). Sebaliknya, mereka membawa tawanannnya untuk diperkenalkan kepada tawanannya itu tentang seperti apa kehidupan para Samurai sebenarnya. Tawanan itu diperlakukan secara baik seperti saudara mereka sendiri, diajarkan ilmu beladiri menggunakan pedang layaknya seorang Samurai. 

Tidak lama, tawanan itu pun mengenal dengan baik kehidupan mereka. Bahkan dirinya merasa sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka secara utuh. Di sinilah letak nilai-nilai luhur budaya Samurai yang sebenarnya dia rasa lebih memberi kedamaian dari kehidupan beserta budaya miliknya yang dia jalani selama ini. 

Pada kondisi ini, kita memahami bahwa "seorang lawan" menjadi lawan yang sebenar-benarnya lawan hanya ketika kita dihadapkan secara face to face di medan perang. Di luar itu, kita bisa menerima dia dengan alasannya mengapa berseberangan dengan kita. Tinggal tugas kita untuk mengenalinya dan biarkan dia juga mengenali siapa sebenarnya kita dan mengapa kita seperti ini. 

Tapi . . . Semua Hal itu Kian Terkikis

Tidak dipungkiri, terbentuknya jembatan penghubung yang kuat di antara dunia para Samurai dengan dunia luar menjadi salah satu penyebab banyaknya sebagian besar dari para Samurai yang berkhianat terhadap ajaran leluhur sehingga terpecah belah dan menyulut perang saudara. 

Tidak bisa disalahkan begitu saja memang, mengingat faktor penyebabnya juga adalah faktor yang tidak bisa lagi terelakkan ketika zaman yang terus berkembang dan budaya-budaya yang ada di dunia saling tercampur dan berhubungan satu sama lain. Yang patut disalahkan adalah ketika suatu massa yang berbudaya baru itu kemudian mengusik dan berusaha ingin mengendalikan semuanya, termasuk para Samurai (dalam hal ini) yang notabene memiliki kebudayaan yang berbeda total dengan kebudayaan mereka. Di sinilah perbedaan menciptakan permusuhan. 

Perbedaan Tidak Harus Dipertanyakan dan Diperdebatkan 

Di poin ini lah saya mengambil simpulan. Budaya dan segala hal yang ada dalam kehidupan Para Samurai Sejati menjadi terkikis ketika dihadapkan dengan perubahan zaman. Kemudian hasil dari kikisan budaya asli para Samurai Sejati itu menghasilkan budaya baru yang pada kenyataannya memang harus bisa untuk tetap hidup damai dan rukun berdampingan. 

Tetapi pada kenyataannya, perbedaan sangat sulit untuk berdampingan. Mayoritas selalu saja menginginkan fleksibilitas dari minoritas. Tidak begitu pula sebaliknya. Kadang, yang diinginkan minoritas hanyalah untuk tetap ingin hidup damai dan nyaman tanpa ada seorangpun yang berani mengusiknya.

Menjadi "Samurai" di Masa Kini

Tidak harus menjadi ahli pedang. Cukup lah memiliki dan mengamalkan nilai-nilai luhur yang diproyeksikan dalam kehidupan sehari-hari. Idealisme, sopan-santun, dan tata krama, serta saling menghormati satu sama lain.

Idealisme  yang kuat a la seorang Samurai juga bisa kita tanamkan dalam kegiatan sehari-hari agar -semoga- berbuah kesempurnaan pada setiap hasil yang kita dapatkan.


Gambar dari sini

2 comments:

  1. wah hebat juga bisa bikin kajian film action yang ditonton

    good job

    ReplyDelete
  2. gile yah bisa menuliskan isi dari film sampai sekomplit ini.. kalo saya palingan nonton, trus nulis hal2 yg keren2 aja. hihii..

    kamu hebat :D

    ReplyDelete