BLOG.MAKMALF

Words are breathing

Monday, 18 August 2014

Pahit Getir Menjadi Seorang Wordpress Theme Freelancer

Menjadi seorang freelancer ternyata bukan hal yang mudah, meskipun bekerja dengan waktu yang bisa kita tentukan sendiri, tidak perlu ke kantor dengan berkemeja rapi. Tapi, tetap saja memiliki beberapa kesulitan tersendiri yang hanya bisa dicari dan diterapkan solusinya oleh diri kita sendiri.

Berawal dari pahit getir yang saya rasakan selama kurang lebih 1 tahun menjadi seorang freelancer, saya menemukan semacam rules yang seharusnya bisa digunakan disaat kita mengawali karir, khususnya untuk freelancer yang menjual jasa sebagai Wordpress Theme Developer, just like what I'm doing.


Terlalu Murah Menentukan Harga


Dalam menentukan harga, saya memang melihat dulu dari sisi kerumitan produk yang diinginkan oleh client. Jika menurut saya itu mudah, maka saya jual murah, jika rumit maka saya jual mahal.

Seiring waktu, bertambah pengalaman dan ilmu pemrograman, permintaan client yang dulu saya bilang rumit kini menjadi mudah, dan yang dulu saya bilang mudah kini menjadi terlalu mudah. Saya mulai menemukan masalah, yaitu: adalah harga yang tidak ikut berubah. Dengan asumsi rata-rata ada 3 proyek yang saya tangani tiap bulan, alhasil pendapatan saya cenderung datar-datar saja, nyaris tidak ada peningkatan.

Just share:

  • Untuk jasa convert PSD to Wordpress Theme, dulu sampai sekarang saya hanya pasang harga 500.000 - 800.000 rupiah.
  • Untuk jasa pembuatan website Wordpress dari awal, dulu sampai sekarang saya hanya pasang harga 1.000.000 - 1.300.000 rupiah.

Dan ketika saya bertanya tentang masalah ini kepada seseorang yang sudah lebih dulu menjadi seorang freelancer di bidang yang sejenis. Dia menjawab seperti ini:

  • Untuk jasa convert PSD to Wordpress Theme, 2.000.000 - 5.000.000 rupiah.
  • Untuk jasa pembuatan website Wordpress dari awal, 5.000.000 - 12.000.000 rupiah.

Btw, harga sebesar itu dia pasang dari awal merintins karir. Well, you see, sangat tidak sebanding dengan pendapatan saya selama ini.

Dan beberapa hal yang saya pelajari dari masalah ini adalah:

  • Beberapa freelancer yang kita kenal (baik secara online maupun offline) bisa saja menjadi seorang tutor yang berguna bagi kita dalam menentukan harga.
  • Jangan pernah mematok harga dari tingkat kesulitan/kerumitan sebuah proyek. Tapi yang dipertimbangkan adalah waktu, biaya operasional (seperti internet, ongkos kalau harus ketemuan dengan client yang lokasinya jauh dari jangkauan kita), dan bila perlu, harga tools yang digunakan jika itu memang tidak gratis (seperti laptop, photoshop, dremweaver, etc).


Ditawar Sadis oleh Client (Kaskuser, baca: Di-afgan-in oleh Client)


Tidak jarang, client yang bersifat perseorangan juga meminta jasa saya untuk dibuatkan website pribadinya. Biasanya, tipe client yang seperti ini tidak mau keluar uang banyak hanya untuk sebuah website pribadi saja. Jadi tidak aneh jika harga yang sudah kita tawarkan malah ditawar lagi oleh dia secara habis-habisan, bahkan pernah sampai setengah harga.

Saya pun menemukan beberapa tips untuk menangani situasi seperti ini.

  • Yakinkan pada client bahwa harga yang dia keluarkan akan sebanding dengan apa yang dia akan dapatkan.
  • Tunjukkan portofolio website pilihan kita yang paling kita anggap bagus, sesuai dengan kebutuhan dia, dan sesuai dengan harga yang kita tawarkan.
  • Beberapa proyek dengan harga yang sangat jauh di luar batas standar harga sebenarnya, dalam beberapa situasi finansial yang mendesak, kadang terpaksa harus kita ambil. Jadi ya, ikhlaskan saja lah. :)
  • Jika harga sudah deal, meskipun itu sangat jauh di bawah standar, tetap kerjakan proyeknya dengan maksimal untuk hasil yang terbaik. Walau bagaimanapun, ujung tombak dari nama baik kita sebagai freelancer adalah pada hasil pekerjaan-pekerjaan yang telah kita lakukan sebelumnya.

Adapun hal-hal penting yang harus jadi pertimbangan kita dalam melakukan negosiasi:

  • Pertimbangkan kondisi finansial kita saat itu. Jika tidak terlalu mendesak dan tidak butuh tambahan uang, harga yang ditawar sadis oleh client lebih baik jangan kita ambil. Itu untuk mempertahankan kesan profesionalisme kita di mata client. 
  • Menurut saya, discount 20% masih sangat masuk akal, apalagi untuk proyek yang berbudget besar. Jangan sampai kita hiraukan, apalagi bisa menambah portofolio proyek-proyek besar yang telah kita kerjakan.
  • Client yang professional akan mempercayakan proyeknya pada orang yang professional juga. Jadi jika menemukan client yang sudah tidak professional bahkan dalam proses negosiasi, acuhkan saja. Dan bilang, "Maaf, saya tidak akan bekerja selama 2x24 jam untuk bayaran yang sama sekali tidak akan bisa menutupi biaya operasional saya untuk bekerja selama itu."
  • Tawarkan opsi lain yang less-feature seperti: "Pak, saya bisa ambil harga segitu tapi salah satu fitur yang bapak inginkan ini, (sebutkan fiturnya) sudah tidak lagi termasuk di dalamnya. (Jelaskan lagi alasannya bila perlu)."


Tidak Dibayar Tepat Waktu


Ini sangat sering terjadi, terutama untuk client yang tidak pernah melakukan offline meeting dengan kita. Jika hal ini terjadi dan sudah semakin berlarut-larut, beri pengertian pada client bahwa kita telah mengerjakan proyeknya sebaik mungkin dan menyelesaikannya sesuai deadline. Jika tetap tidak dibayar, berikut langkah-langkah yang biasa saya lakukan.

  • Buat super admin baru untuk kita gunakan, jaga-jaga jika client merubah password wp-admin nya karena berniat kabur. Jangan lupa, ganti password cPanel juga.
  • Tutup saja situsnya untuk sementara waktu sampai pembayaran dilunasi dan redirect ke 404 atau ke halaman notifikasi dan tulis "Site is under development, because there's still a payment issue." atau semacamnya. LOL
  • Beri pengertian pada client bahwa situs akan kembali dibuka dan password akan diberitahukan jika pembayaran sudah dilunasi.


Bekerja Melebihi Jam Aktif Kantor


Meskipun freelancer bisa dengan mudah menentukan jam kerja, tapi untuk beberapa situasi, seorang freelancer bisa saja bekerja lembur bahkan melebihi jam aktif kantor (8 jam = jam 9 pagi - 5 sore). Saya pun pernah mengalami hal seperti ini. Wajar memang, apalagi jika kita masih kuliah dan dituntut oleh rutinitas lain di luar rutinitas kita sebagai freelancer. Bahkan bekerja lembur seperti itu juga memang diperlukan ketika yang dijadikan patokan kita adalah adanya proyek lain yang sudah terlanjur masuk dalam waiting list

Jika waktu bekerja kita sudah sangat menyita waktu istirahat kita, atur lagi waktunya, dan buat semacam list of priorities. Mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu dan mana yang masih bisa ditunda.


1 comment:

  1. hehe. cukup paham pekerjaannya...
    saya cuma mau komentar.. sabar ya... hee :)
    sabar mahal harganya..

    ReplyDelete