BLOG.MAKMALF

Words are breathing

Wednesday, 22 October 2014

Ketika "Hasil" Lebih Berharga Daripada "Proses"

Well, sebenarnya saya agak bingung mau memberi judul post ini apa. Tapi intinya, di post ini saya ingin berbagi pendapat mengenai beberapa celotehan kaskuser yang barusan saya baca di thread berikut.

http://www.kaskus.co.id/thread/5343ee1dffca17f3148b460a/nasib-web-developer-indonesia

Inti yang saya tangkap dari sekian banyak argument para commenter kenapa jasa web development di Indonesia sangat murah dari thread itu adalah:

Harga pasar web development rusak karena makin banyaknya anak-anak IT "jejadian" yang menawarkan jasa web development dengan harga MURAH (kisaran Rp. 200.000 - Rp. 400.000), padahal yang mereka lakukan hanyalah install Wordpress dan edit theme premium yang udah dibikin NULLED.

Oke, memang miris, dan wajar saja beberapa kalangan IT "asli" yang udah lebih lama menggantungkan pendapatannya di bidang pekerjaan ini jadi sewot-sewotan dan seperti kebakaran janggut (kalo yang punya janggut.) karena semakin berkurangnya segmen pasar mereka. Padahal mereka telah bayar mahal untuk kuliah IT mereka, mereka telah cape-capean ngoding CMS sendiri untuk digunakan di web client mereka.

Masalah yang didebatkan pun merembet sampai ke:

CMS bikinan sendiri vs CMS public yang open source (Misal, Wordpress, Joomla, dan Blogspot.)

Ini yang saya singgung di judul, di dunia kerja sering sekali kita mengalami waktu "ketika hasil lebih berharga daripada proses." Kenapa seperti itu? Saya bilang seperti itu karena saya sudah mengalami sendiri pahitnya ketika terkadang mendapat bayaran kurang padahal pekerjaan yang dilakukan membutuhkan beberapa requirement yang lebih dan sisi teknis yang juga rumit. Saya juga mengalami manisnya, ketika terkadang untung mendapat bayaran mahal padahal yang saya kerjakan hanyalah instal Wordpress dengan sedikit custom theme bawaan milik Wordpress.

Beberapa hal di bawah ini menjadi penyebab kenapa hal itu bisa terjadi.

Mostly, client merupakan tipe orang yang result oriented


Tidak jarang ketika client yang sedang melakukan proses negosiasi menunjukkan perbandingan harga di lapak lain ketika harga yang kita tawarkan jauh lebih mahal daripada harga yang menjadi ekspektasi client bersangkutan.

Ini terjadi karena client tidak memahami sisi teknis dibalik setiap halaman website yang menjadi referensinya. Mayoritas client hanya melihat dari segi visual dan apa yang mereka terima saja. Jika website yang dibuat telah sesuai dengan keinginan dia, dia tidak peduli (bahkan masa bodoh) dengan CMS apa yang dipakai: buat dari awal kah atau hanya pakai Wordpress (misal). Client juga nggak peduli ngerjain websitenya sampai belain begadang atau enggak. Ya client masa bodoh lah dengan semua itu.

Solusinya: kita sebagai pekerja seharusnya bisa menentukan requirement yang diperlukan. Jika sekiranya yang diinginkan oleh client hanya lah web company profile biasa tanpa ada fitur semacam blog yang lebih menuntut untuk website menjadi dinamis, kenapa harus ribet-ribet bikin CMS dari awal? bahkan tanpa instal Wordpress, psd to static html template pun jadi. Client senang, kita pun nggak sewot-sewotan kalau misalnya dibayar 700rebu doang. 

Sebaliknya, kalau website yang diinginkan client ternyata membutuhkan kerumitan teknis yang lebih dan client keukeuh nawar harga 500rebu (padahal target minimal tarif kita adalah 3juta). Ya sudah, jangan diambil. Tapi beri dulu pengertian kepada client tersebut bahwa apa yang dia dapatkan akan sebanding dengan apa yang dia keluarkan untuk website jenis tersebut. Jangan lupa sisipkan link tutorial membuat website jenis tersebut via email, beri saran untuk bikin websitenya sendiri aja dulu, biar client macam ini tahu susah membuatnya website yang dia inginkan itu. Ujungnya bakal balik nanya-nanya lagi ke kita.

Dan saya yakin, tipe anak IT "jejadian", kalo gak niat belajarnya, gak akan pernah bisa kesampaian membuat website semacam itu. Misal, Vogue dan Time Magazine. Anyway, dua website itu memang pakai CMS Wordpress tapi pasti udah dicustom sampai tingkat advance. Segmen pasar kita masih aman bros. Mesikpun gak harus coding CMS, hanya melakukan development plugin dan theme saja sudah lumayan mengurangi waktu yang tersita dibandingkan kita harus membuat custom CMS dari awal.

Kalo sudah mampu membuat requirement yang pas, pekerjaan pun bisa jadi lebih sederhana, dan kita pun bisa fokus mengembangkan fungsionalitas lainnya dari web yang si client bersangkutan itu inginkan. Simple. Nawar tarif 3juta ditebus 2,5juta juga kita bisa lebih bersyukur kan, gak akan sewot-sewotan. :))

Intinya, pegang saja pemahaman bahwa client adalah tipe orang yang result oriented. Idealism is not required. Idealisme cukup digunakan sewaktu kita kuliah bikin tugas akhir dan/atau skripsi saja lah. :))

Mostly, client tidak memperhitungkan atau bahkan tidak tahu bahwa ada biaya operasional dan berbagai macam tool yang dibutuhkan untuk membuat sebuah website


Seperti internet, buku referensi, laptop, milimeter blok untuk membuat wireframe design, sampai Adobe Photoshop (jika yang digunakan bukan bajakan) untuk merancang tampilan front end. Bahkan client pun pasti nggak akan kepikiran biaya berobat kita karena sakit terlalu sering begadang ngoding bikin custom CMS sendiri untuk website-nya. :))

Tapi, seperti masalah yang dibahas oleh TS thread kaskus itu. Yang menjadi masalah utama kenapa harga untuk jasa development di Indonesia sangat jauh di bawah negara lainnya yaitu: Isu legalitas

Jujur saja dan menjadi asumsi umum juga bahwa -misal- Adobe Photoshop yang kita gunakan untuk mendesign halaman web adalah bajakan. Artinya, cost of production untuk aplikasi tersebut tidak lagi menjadi bahan perhitungan harga akhir dari jasa development sebuah website. Di samping itu, makin merebaknya IT "jejadian" yang menggunakan theme dan plugin premium bajakan, makin menambah suram saja harga jasa web development kita.

Gegara ini pun, banyak dari rekan-rekan kita sesama web developer yang lebih tertarik untuk membuka lapak online-nya di luar negeri. Dengan asumsi bahwa client di sana lebih "pintar" dan memahami biaya operasional dari semua tool yang kita butuhkan untuk membangun sebuah website.

Solusinya: seperti yang telah disinggung di atas. Mulai coba bermain proyek di mata uang dollar. Membuat (misal) Wordpress Theme premium yang banyak dengan fitur yang advanced kemudian pasang lapaknya di Theme Forest. Dan mulai mempertimbangkan untuk mencari rekan satu tim dengan konsep pemisahan bagian pekerjaan. Bentuk tim dengan anggota paling tidak marketing, designer, dan kamu sebagai programmernya agar kamu bisa fokus mengembangkan fitur yang advanced sesuai imajinasi kamu. Bermain di mata uang dollar, tentunya saingan lebih banyak, harga juga lebih kompetitif tapi tetap masuk akal. 

Client yang pro akan bekerjasama dengan developer yang pro juga


Seharusnya kalau kita seorang developer yang pro, artinya mengerjakan apa yang diinginkan client dengan lunas dan tuntas sesusai kesepakatan, harusnya client tersebut akan menjadi consumer tetap kita. Client itu pun akan merekomendasikan kita apabila suatu saat rekan-rekannya ingin dibuatkan website juga. Dan client pro yang saya maksud di sini adalah client yang memang telah benar-benar menyiapkan budget yang pantas dengan jenis website yang dia inginkan. Client pro seperti ini, sesuai dengan pengalaman saya, bisa berasal dari perusahaan atau sesama freelancer di bidang lain. Client jenis ini biasanya merupakan client yang pintar, penuh perhitungan matang, dan pengetahuan teknis mendasar yang cukup terhadap jenis web yang dia inginkan. Dia seminimalnya memiliki konsep yang matang tentang apa yang harus ada dalam websitenya tersebut.

Masalahnya, kebanyakan, client seperti ini sangat jarang melirik developer-developer skala kecil, apalagi freelancer anak kemarin sore yang ngoding html+css aja masih terbata-bata. Kalo nggak rajin jemput bola, jangan harap, freelancer yang tidak memiliki eksistensi kuat di dunia maya bisa mendapatkan proyekan ideal seperti ini. Ya memang itu masalahnya. Eksistensi freelancer apalagi yang perseorangan masih kalah telak dibanding perusahaan-perusahaan yang memang fokus bergerak di bidang web development.

Solusinya: cobalah aktif di dunia maya, membuat berbagai macam publikasi online tentang hal-hal yang berkaitan dengan web development, website pribadi, resume dan portfolio online, ngetweet yang berkualitas, it takes time and so much effort sih pasti. Tapi minimal, ketika seseorang mengetikkan "web developer jakarta" di google misal, nama kamu ada di page one lah. Atau ketika teman kamu mengetikkan nama lengkap kamu di google, seminimalnya yang banyak muncul adalah beberapa situs yang merujuk kamu adalah sebagai web developer, jangan akun social media melulu. :))

***

Intinya, memenuhi keinginan client secara berkualitas itu adalah satu-satunya hal yang menjadi fokus kita dalam mengerjakan proyek website-nya. Jangan mentang-mentang mampu membuat custom CMS sendiri jadinya malah setiap proyekan kamu harus membuat custom CMS sendiri, ya itu juga salah. Tentukan requirement aja sih, kalo websitenya gak sampe seribet https://www.google.com, jangan gengsi pake CMS public lah. Kalo kamu beralasan pake CMS public yang open source gitu security-nya gak bagus. Ah masa? White House juga pake Drupal kok, berarti kasian dong developernya cupu dan webnya gampang dijebol. Tuh kan. :))


3 comments:

  1. haha.. semacam melacur "melakukan curhat" yah postingan kamu, mal.. :))
    tapi emang ada benernya mal kata kamu soal "seseorang(siapapun dan dalam kondisi yang berbeda juga) kadang emang pengen yang praktis, apa yang menurut dia klik pas dia ngeliat tanpa tau ada proses puanjanggggg dibalik sesuatu yang nampak praktis itu, menurut dia. #semoga kamu gak bingung apa yg saya maksud, haha

    suatu hari temen saya yg mahasiswa IT juga pernah curhat soal klien nya dia yang ngebatalin pesanan web karena ternyata pas uda 70% jadi, ada hal yg menurut dia gak sesuai dengan apa yang dia ekspektasikan, bodohnya(mungkin lebih tepatnya si teman saya ini lupa), dia gak ngebuat perjanjian hitam di atas putih. padahal dia yang uda ngerjain dari awal bnget sampe begadang2an sagalaaa.. hahahaha. well at least, bisa disimpen buat arsip kan ya? :))

    #HIDUP NGODING! #eh :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya panjang banget ya post nya. :))

      Eh tapi jangan salah loh, kadang hitam diatas putih aja nggak cukup. Dan itu salah satu hal yang bikin hidup programmer semakin berat. :))

      Delete
  2. wuah jadi penasaran sama programmer.. #eh #kan salah fokus, jadinya mal.. -__-

    ReplyDelete