BLOG.MAKMALF

Words are breathing

Friday, 6 February 2015

The Little Death [2014] - Ketika Orang-Orang Berperilaku Seksual Menyimpang Dengan Renyahnya Kita Tertawakan

Pernah nonton Pulp Fiction? Kalau jawabannya pernah, mungkin beberapa bagian dari The Little Death ini akan mengingatkan kita pada film itu, termasuk endingnya. Sorry spoiler. :)

Tapi berbeda dengan Pulp Fiction, The Little Death tidak menampilkan kepala si Marvin yang pecah karena tidak sengaja tertembak oleh pistol si Vincent Vega atau kepala-kepala lainnya yang juga pecah di film itu. Singkatnya, The Little Death sama sekali tidak ada hubungannya dengan Pulp Fiction. Ini berbeda, tapi sama: konsumsi dewasa. Dan bagian ini yang paling menarik.

Perilaku menyimpang seksual.


The Little Death menceritakan tentang kehidupan beberapa pasang manusia, satu pihak dari masing-masing pasangan tersebut mengidap kelainan seksual yang aneh. Ambil satu contoh yang paling tragis: Pasangan Rowena & Richard.

Ketika Rowena (istrinya) hanya bisa turn on ketika melihat si Richard menangis dan mengeluarkan air mata. Gara-gara itu, Rowena mencari cara agar si Richard bisa menangis terisak-isak, seperti: memajang foto-foto almarhum ayah si Richard, pura-pura terkena kanker, sampai menyembunyikan anjing kesayangan si Richard. Parahnya, di tengah-tengah upacara kematian ayah si Richard pun, Rowena sempat-sempatnya turned on ketika melihat si Richard yang menangisi jasad ayahnya yang sedang dikubur. Sick memang.

Semua perilaku menyimpang itu kemudian berujung pada bencana besar bagi setiap pasangannya. Contoh tragisnya, adalah Si Dan yang kemudian terobsesi untuk menjadi aktor gara-gara dirinya telah terbiasa berhubungan seksual dengan pasangannya dengan "gaya" yang sangat sangat tidak lazim: keduanya harus berpura-pura menjadi orang lain layaknya seorang aktor dan aktris "blue film" agar bisa turn on dan menghamili pasangannya. Saking terobsesinya, dia melupakan esensi dari aktifitas seksual yang selama ini dia jalani itu: berkembang biak. Ya, dirinya tidak sempat mengetahui bahwa pasangannya itu telah sukses hamil, terlanjur berpisah karena pasangannya dikecewakan oleh dia yang lebih memilih jalur karirnya sendiri sebagai aktor. LOL.

*****

Apa yang diperlihatkan oleh film ini mungkin terkesan berlebihan bahkan mengada-ngada, tapi bisa saja ada beberapa pasangan manusia diantara jutaan pasangan manusia lainnya di bumi ini yang tidak beruntung karena mengalami masalah disorientasi seksual seperti itu.

Well, Lagi-lagi, seperti Pulp Fiction. Entah kenapa, atau hanya saya saja yang melihat ini, more or less, terinspirasi dengan gaya bertutur Pulp Fiction, dimana masing-masing pasangan akting yang terpisah dan sama sekali tidak saling bersinggungan kemudian dipertemukan disaat-saat menjelang akhir cerita, puncaknya, di ending yang terbilang tragis itu.

O ya, komedinya juga. Seperti Pulp Fiction, entah apa yang kita tertawakan, tapi kita sulit untuk tidak tertawa, karena sesungguhnya terlalu keji untuk mentertawakan mereka yang menderita gara-gara kelainan seksual itu, persis seperti kita mentertawakan kepala si Marvin yang pecah karena tidak sengaja tertembak oleh Si Vincent Vega itu.

*****

A good movie for anyone who keep their mind open.

1 comment: